Sabtu, 07 Juni 2014

Bahagia Itu Sederhana, 50 ribu Gak Kemana

Bicara tentang uang memang paling asyik buat anak kost sepertiku, apalagi di tanggal muda. Paling enggak senyum mistis I Gusti Ngurah Rai masih setia tergolek tak berdaya didalam dompet tercinta. Tapi jangan coba-coba bicara uang pas banget ditanggal tua, siap-siap deh buka dompet mendapati Kapitan Pattimura bawak golok. Nah seperti itulah keadaan dompet sekarang ini. Miris tenan ya ?
Lantas aku tidak begitu shock atau pingsan mendapati bahwa ternyata dompetku hanya menyimpan dua lembar uang  Rp.50.000,-. Karena udah biasa mendapati kondisi dompet dalam keadaan yang mengenaskan seperti ini. Seksama kuperhatikan kalender di meja belajarku, “masih tanggal 27, masih ada 3 hari lagi untuk bertahan hidup” pikirku karena dalam waktu 3 hari kiriman akan datang.
Belum lagi mikir dompet yang lagi sakit parah, kepalaku benar-benar pusing 7 keliling memikirkan skripsi yang belum jelas nasibnya, barangkali dosen pembimbing masih pada galau sehingga aku yang menjadi korban PHP-nya.” Apakah bahagia sesulit ini ya Allah” teriakku pada dirisendiri. Sebenarnya dua hari yang lalu anak-anak kost ngajakin buat karaokean dan hang out  gitu di mal. Tapi dengan alasan ngerjain skripsi aku menolaknya, ya tau sendiri dong keadaan dompet gimana. Lagi sakit berat, bisa-bisa aku  malah karaokean dilampu merah ntar. 3 hari yang lalu juga sama, teman-teman satu kelas pada ngajakin weekend out bound di pinggir kota. Boro-boro masuk out bound, bisa-bisa disuruh get out entar.
Pada akhirnya aku copot uang Rp.50.000 dari dalam penjara dompetku, kubiarkan ia menghirup udara bebas sebelum aku benar-benar melepas kepergiannya, eh ngomong apaan sih ? . Lanjut aku bersiap-siap layaknya gadis remaja berhijab lainnya.  Sebenarnya mau kemana sih? Yah aku gak tau juga yang penting melancong kemana aja melepaskan sedikit penatnya menuntut ilmu. Kudorong perlahan si cantik finoku keluar dari garasi kost. Kupanaskan mesinnya selama 5 menit, agar hari ini dia mempunyai semangat menemaniku mengukur jalan kenangan  dikota kecilku ini. Bensin si fino juga sudah full banget ni, wah gak keluar uang lagi deh!
Dalam perjalanan yang baru aku mulai beberapa menit yang lalu, hati kembali bingung kemanakah aku akan melangkah? Ah entahlah kemana takdir akan membawa perjalanan ini. Aku pasrahkan pada takdir. Aku kemudian berhenti di salah satu toko buku terbesar dikotaku. Naluri sebagai seorang gadis remaja itu memang tak pernah salah ya menyangkut barang-barang yang berbau diskon. Aku segera memakirkan si fino di area parkir. Dengan sigap aku melangkahkan kaki kedalam toko, sepertinya lagi ada diskon buku besar-besaran. Untungnya suasana tidak terlalu ramai, sehingga aku bisa dengan nyaman dan bebas membaca buku gratis disana. Nah loh ? kiraen mau beli buku?. Disaat diskon seperti ini biasanya banyak banget buku yang gak disampul, nah bagiku ini sebuah kesempatan emas untuk menggali ilmu pengetahuan dari hal-hal yang berbau gratis. Maklum uang tinggal 50.000 ni. Setelah cukup puas membaca buku, perutpun mengalunkan music keroncong yang lumayan sendu sedari tadi. Jam juga sudah menunjukan pukul 2 pantas saja para awak cacing sudah demo meminta kenaikan gaji, eh maksudnya diberi tunjangan sembako gitu.  Aku memutuskan untuk keluar dan mencari makanan. Dengan membayar parkir pecah sudah perawan sikertas biruku, digantikan dengan si hijau, si ungu dan si merah hati yang terlihat lecek dan kucel.
Akupun mulai beraksi mencari warung makanan yang enak tapi super duper murahnya. Emang ada? Mari kita berburu. Tapi sebelum sampai ditempat tujuan yang dimaksud. Perjalananku dihentikan oleh si sombong lampu merah. Oh ya sudahlah, sebagai warga Negara yang taat lantas aku menghentikan laju kendaraanku. Sambil menunggu mataku tertuju kepada beberapa anak jalanan yang menjajakan Koran harian. Sungguh pilu sekali hati ini melihatnya, terbakar di bawah terik matahari hanya untuk mendapatkan sesuap nasi. Teringat akan ayah ibu dikampung halaman yang berjualan Koran dan majalah, karena itulah aku bisa melanjutkan pendidikan sampai ke bangku tingkat universitas ini. Hanya saja bedanya ayah mempunyai toko kecil untuk berwirausaha. Sehingga aku tak perlu seperti mereka, bersusah payah menjajakan Koran seperti itu. Tiba-tiba seorang bocah dekil mendekatiku “kak korannya kak, Cuma 4000” ucapnya sambil menawarkan Koran kepadaku. Aku kemudian merogoh-rogoh tasku, mencari pecahan si biru tadi, tapi aku tak menemukannya. “pasti terselip didalam buku ni” pikirku saat itu. Sayangnya, lampu hijau sudah menyala. Beberapa kendaraan dibelakangku sibuk membunyikan klakson, karena sudah terdesak segera saja kugas motorku, tanpa memberikan sepeser uang kepada adik itu. Ya allah, sungguh hatiku sangat sedih kala itu, membayangkan betapa sedihnya wajah bocah itu.
Setelah sekita 500 meter dari lampu merah tadi, tiba-tiba ban depan motorku pecah. Aku benar-benar terkejut dan tak mampu menyeimbangkan laju motorku. Sebelum terjadi hal-hal yang tak di inginkan, aku segera mematikan mesinnya, turun dan menuntun motorku mencari bengkel terdekat. Tapi apa mau dikata, setelah setengah jam berjalan menuntun si cantik fino menusuri jalan raya yang sungguh ramai ini. Bahkan aku tak sempat untuk update status “aduh ban bocorr, help me please !!”. Akhirnya aku menemukan bengkel yang seperti oase bagiku dipadang pasir. Sementara si finoku di make up dengan sang mekanik, aku menikmati makan siangku di warteg sebelah. Ya disaat sedang lapar begini apapun enak bagiku, asalkan masih dalam kapasitas halal. Membayar parkir tadi, ban bocor dan makan siang sudah habis uangku 20.000, berarti sisa 30.000. Kemudian aku berfikir tentang anak kecil tadi, rasa bersalah kian hinggap mewarnai hati. Ah kesalahanku mungkin sehingga mendapatkan kesialan seperti ini. Setelah motorku telah siap diperbaiki, aku memutuskan untuk kembali kelampu merah tadi. Kucari sosok anak keil itu, ternyata ia dan teman-temannya masih sibuk menjajakan korannya. Aku berhenti dan memanggilnya, kuserahkan selembar uang 10.000 kepadanya “ambil aja kembaliaanya ya” kataku sambil meraih korannya “terima kasih kak” jawabnya sambil tersenyum polos ala bocah dekil. Hatiku sedikit lega telah memperbaiki kesalahan hari ini. Kupacu gas motor matic ini, Cukup sudah hari ini, sepertinya aku sudah cukup lelah berjalan-jalan tapi juga cukup bahagia bisa berbagi hari ini. Walaupun Cuma mengantongi si biru.
Jarum speedometer sudah menunjukan kadar bensin yang empty, aku segera menghentikan motor di Pom Bensin terdekat. “Yah berkurang lagi deh si hijau” kicauku sedikit menggerutu “mau pulang apa gak? Atau masih mau menuntun aku karena kasus kehabisan bensin? Aku sih gak masalah” Seakan-akan si fino berkata sinis memarahiku.

Dengan uang 50.000 bisa apa? Hal paling simple yang bisa kita lakukan adalah berbagi. Toh itu gak akan merugikan kita kok. Karena ketika kita berbuat baik kepada orang lain, hal yang sama akan kita dapati kelak. Simplekan ? bahagia itu cukup berbagi ya palinga gak sibiru gak kemana.

dibuka yaa Link-nya :) 
http://www.youtube.com/watch?v=XdI1CHTM4Mw