Sabtu, 11 Oktober 2014

Atas Nama Kenangan

"Ia tak pernah benar-benar pergi, ia datang saat aku memanggilnya atas nama kenangan"

Kalimat manis nan menyedihkan ini aku curi dari sebuah cerpen klasik karya salah satu penulis terbaik bangsa, Helvy Tiana Rosa dengan judul 'Cut Vi'

Aku suka kalimat itu
Entahlah kenapa
Hanya saja ada getaran yang bangkit dari tidur panjangnya setelah mengingat aksara itu . . .
Aku tau dan mengenal dengan baik getaran itu
Getaran kesedihan~ kesedihan akan kenangan~ kenangan yang hilang

"Ia tak pernah benar-benar pergi"
Kau tau siapa yang pergi dan menghilang dari hidup ini?
Hanya satu nama
Ayah . . .
Ayah . . .
Ayah . . .
Ia pergi~ tak mungkin lagi kembali~ meski hanya untuk sekedar mengetuk mimpiku

Tahun ini tepat sudah sepuluh tahun
Sepuluh tahun?
Bukanlah waktu yang singkat
Bahkan mungkin bumi sudah lelah berotasi selama itu
Matahari telah bosan menyapa kita di pagi hari selama itu
bahkan mungkin kesedihanku telah berkarat dibasahi air mata untuk sekedar membangkitkan kenangan tentangnya . . .

Tapi,
aku sadar
Mungkin raganya telah menyatu dengan tanah . . .
Mungkin jiwanya tiada bisa kulihat
Aku sadar aku lupa satu hal
Ia datang
Ia selalu hadir disini
Saat aku memanggilnya atas nana kenangan
Ia ada . . .
Saat sel otakku mencoba menggali timbunan kenangan yang ada
Mungkin . . .
Saat aku memanggilnya melalui tulisan ini
Ia ada disini
Melihat aksaraku
Dan mengusap kepalaku
Sama seperti apa yang sering ia lakukan dulu
Ia datang . . .
Saat aku memanggilnya atas nama kenangan . . .

Sabtu, 07 Juni 2014

Bahagia Itu Sederhana, 50 ribu Gak Kemana

Bicara tentang uang memang paling asyik buat anak kost sepertiku, apalagi di tanggal muda. Paling enggak senyum mistis I Gusti Ngurah Rai masih setia tergolek tak berdaya didalam dompet tercinta. Tapi jangan coba-coba bicara uang pas banget ditanggal tua, siap-siap deh buka dompet mendapati Kapitan Pattimura bawak golok. Nah seperti itulah keadaan dompet sekarang ini. Miris tenan ya ?
Lantas aku tidak begitu shock atau pingsan mendapati bahwa ternyata dompetku hanya menyimpan dua lembar uang  Rp.50.000,-. Karena udah biasa mendapati kondisi dompet dalam keadaan yang mengenaskan seperti ini. Seksama kuperhatikan kalender di meja belajarku, “masih tanggal 27, masih ada 3 hari lagi untuk bertahan hidup” pikirku karena dalam waktu 3 hari kiriman akan datang.
Belum lagi mikir dompet yang lagi sakit parah, kepalaku benar-benar pusing 7 keliling memikirkan skripsi yang belum jelas nasibnya, barangkali dosen pembimbing masih pada galau sehingga aku yang menjadi korban PHP-nya.” Apakah bahagia sesulit ini ya Allah” teriakku pada dirisendiri. Sebenarnya dua hari yang lalu anak-anak kost ngajakin buat karaokean dan hang out  gitu di mal. Tapi dengan alasan ngerjain skripsi aku menolaknya, ya tau sendiri dong keadaan dompet gimana. Lagi sakit berat, bisa-bisa aku  malah karaokean dilampu merah ntar. 3 hari yang lalu juga sama, teman-teman satu kelas pada ngajakin weekend out bound di pinggir kota. Boro-boro masuk out bound, bisa-bisa disuruh get out entar.
Pada akhirnya aku copot uang Rp.50.000 dari dalam penjara dompetku, kubiarkan ia menghirup udara bebas sebelum aku benar-benar melepas kepergiannya, eh ngomong apaan sih ? . Lanjut aku bersiap-siap layaknya gadis remaja berhijab lainnya.  Sebenarnya mau kemana sih? Yah aku gak tau juga yang penting melancong kemana aja melepaskan sedikit penatnya menuntut ilmu. Kudorong perlahan si cantik finoku keluar dari garasi kost. Kupanaskan mesinnya selama 5 menit, agar hari ini dia mempunyai semangat menemaniku mengukur jalan kenangan  dikota kecilku ini. Bensin si fino juga sudah full banget ni, wah gak keluar uang lagi deh!
Dalam perjalanan yang baru aku mulai beberapa menit yang lalu, hati kembali bingung kemanakah aku akan melangkah? Ah entahlah kemana takdir akan membawa perjalanan ini. Aku pasrahkan pada takdir. Aku kemudian berhenti di salah satu toko buku terbesar dikotaku. Naluri sebagai seorang gadis remaja itu memang tak pernah salah ya menyangkut barang-barang yang berbau diskon. Aku segera memakirkan si fino di area parkir. Dengan sigap aku melangkahkan kaki kedalam toko, sepertinya lagi ada diskon buku besar-besaran. Untungnya suasana tidak terlalu ramai, sehingga aku bisa dengan nyaman dan bebas membaca buku gratis disana. Nah loh ? kiraen mau beli buku?. Disaat diskon seperti ini biasanya banyak banget buku yang gak disampul, nah bagiku ini sebuah kesempatan emas untuk menggali ilmu pengetahuan dari hal-hal yang berbau gratis. Maklum uang tinggal 50.000 ni. Setelah cukup puas membaca buku, perutpun mengalunkan music keroncong yang lumayan sendu sedari tadi. Jam juga sudah menunjukan pukul 2 pantas saja para awak cacing sudah demo meminta kenaikan gaji, eh maksudnya diberi tunjangan sembako gitu.  Aku memutuskan untuk keluar dan mencari makanan. Dengan membayar parkir pecah sudah perawan sikertas biruku, digantikan dengan si hijau, si ungu dan si merah hati yang terlihat lecek dan kucel.
Akupun mulai beraksi mencari warung makanan yang enak tapi super duper murahnya. Emang ada? Mari kita berburu. Tapi sebelum sampai ditempat tujuan yang dimaksud. Perjalananku dihentikan oleh si sombong lampu merah. Oh ya sudahlah, sebagai warga Negara yang taat lantas aku menghentikan laju kendaraanku. Sambil menunggu mataku tertuju kepada beberapa anak jalanan yang menjajakan Koran harian. Sungguh pilu sekali hati ini melihatnya, terbakar di bawah terik matahari hanya untuk mendapatkan sesuap nasi. Teringat akan ayah ibu dikampung halaman yang berjualan Koran dan majalah, karena itulah aku bisa melanjutkan pendidikan sampai ke bangku tingkat universitas ini. Hanya saja bedanya ayah mempunyai toko kecil untuk berwirausaha. Sehingga aku tak perlu seperti mereka, bersusah payah menjajakan Koran seperti itu. Tiba-tiba seorang bocah dekil mendekatiku “kak korannya kak, Cuma 4000” ucapnya sambil menawarkan Koran kepadaku. Aku kemudian merogoh-rogoh tasku, mencari pecahan si biru tadi, tapi aku tak menemukannya. “pasti terselip didalam buku ni” pikirku saat itu. Sayangnya, lampu hijau sudah menyala. Beberapa kendaraan dibelakangku sibuk membunyikan klakson, karena sudah terdesak segera saja kugas motorku, tanpa memberikan sepeser uang kepada adik itu. Ya allah, sungguh hatiku sangat sedih kala itu, membayangkan betapa sedihnya wajah bocah itu.
Setelah sekita 500 meter dari lampu merah tadi, tiba-tiba ban depan motorku pecah. Aku benar-benar terkejut dan tak mampu menyeimbangkan laju motorku. Sebelum terjadi hal-hal yang tak di inginkan, aku segera mematikan mesinnya, turun dan menuntun motorku mencari bengkel terdekat. Tapi apa mau dikata, setelah setengah jam berjalan menuntun si cantik fino menusuri jalan raya yang sungguh ramai ini. Bahkan aku tak sempat untuk update status “aduh ban bocorr, help me please !!”. Akhirnya aku menemukan bengkel yang seperti oase bagiku dipadang pasir. Sementara si finoku di make up dengan sang mekanik, aku menikmati makan siangku di warteg sebelah. Ya disaat sedang lapar begini apapun enak bagiku, asalkan masih dalam kapasitas halal. Membayar parkir tadi, ban bocor dan makan siang sudah habis uangku 20.000, berarti sisa 30.000. Kemudian aku berfikir tentang anak kecil tadi, rasa bersalah kian hinggap mewarnai hati. Ah kesalahanku mungkin sehingga mendapatkan kesialan seperti ini. Setelah motorku telah siap diperbaiki, aku memutuskan untuk kembali kelampu merah tadi. Kucari sosok anak keil itu, ternyata ia dan teman-temannya masih sibuk menjajakan korannya. Aku berhenti dan memanggilnya, kuserahkan selembar uang 10.000 kepadanya “ambil aja kembaliaanya ya” kataku sambil meraih korannya “terima kasih kak” jawabnya sambil tersenyum polos ala bocah dekil. Hatiku sedikit lega telah memperbaiki kesalahan hari ini. Kupacu gas motor matic ini, Cukup sudah hari ini, sepertinya aku sudah cukup lelah berjalan-jalan tapi juga cukup bahagia bisa berbagi hari ini. Walaupun Cuma mengantongi si biru.
Jarum speedometer sudah menunjukan kadar bensin yang empty, aku segera menghentikan motor di Pom Bensin terdekat. “Yah berkurang lagi deh si hijau” kicauku sedikit menggerutu “mau pulang apa gak? Atau masih mau menuntun aku karena kasus kehabisan bensin? Aku sih gak masalah” Seakan-akan si fino berkata sinis memarahiku.

Dengan uang 50.000 bisa apa? Hal paling simple yang bisa kita lakukan adalah berbagi. Toh itu gak akan merugikan kita kok. Karena ketika kita berbuat baik kepada orang lain, hal yang sama akan kita dapati kelak. Simplekan ? bahagia itu cukup berbagi ya palinga gak sibiru gak kemana.

dibuka yaa Link-nya :) 
http://www.youtube.com/watch?v=XdI1CHTM4Mw

Sabtu, 26 April 2014

Bocah Itu Seperti Aku

Bukan hal yang luar biasa mungkin melihat bocah-bocah kecil berwajah kusam dan memakai pakaian lusuh menjajakan koran di tepian pemberhentian lampu lalu lintas.
Terkadang mereka menjajakan koran yang sudah kadaluarsa tanggalnya bahkan sudah lecek. Mungkin sekarang lebih banyak orang-orang yang menggunakan jasa internet, dan malas untuk membaca koran.
Seringkali aku menemukan bocah-bocah tersebut bersama korannya. Satu hal yang membuat hati ini bergetar, bahwa aku mungkin sama seperti mereka. Dibesarkan melalui peluh keringat ayah yang seorang agen koran dan majalah. Hanya saja bedanya mungkin aku tak berkesempatan untuk merasakan sulit seperti bocah-bocah kecil itu. Menikmati terik matahari yang membakar jiwa namun tidak sebanding dengan laba yang didapat dengan menjual koran.
Barangkali Aku sedikit lebih beruntung.
Suatu pemandangan yang tiada kusia-siakan ketika melintasi lampu merah, melihat mereka menjajakan korannya seperti melihat diriku dalam kondisi yang berbeda. "Ya Allah mungkin aku yang tak mampu bersyukur bahwa nikmat yang engkau beri ini sudah lebih dari cukup" itulah kata yang selalu terlintas dibenakku melihat bocah-bocah itu.
Teringat oleh ku kisah yang diceritakan kakak laki-lakiku kala ia mengendarai roda duanya pulang dari mengajar. Lampu lalu lintas menunjukan sinyal merahnya. Iapun segera menghentikan laju kendaraan roda duanya. Setelah beberapa lama ia menunggu datanglah bocah kecil yang menyodorkan koran harian kepadanya. Sunggug saat itu hatinya tergerak untuk membeli, kemudian ia merogoh tasnya, namun ia hanya bisa menemukan uang senilai Rp.50.000. Ia terus mencari uang dengan nilai yang lebih kecil. Namun ternyata lampu hijau sudah menyala, para pengendara mulai memacu gas kendaraannya. Dalam kondisi yang sangat ramai ia terpaksa memacu laju kendaraanya tanpa sempat memberi sepeser uangpun kepada bocah itu.
Dalam posisi yang hampir mendekati area rumah. Sebuah kecelakaan terjadi. Ya, ia menabrak sebuah mobil. "Alhamdulilah ia tidak kenapa-napa begitu juga dengan honda yang ia kendarai, tidak lecet sedikitpun. Hanya saja mobil yang ia tabrak mengalami kerusakan yang cukup menguras kantong. Barangkali ini sebuah pelajaran buatnya. Kemudian esoknya ketika ia bertemu dengan bocah yang menjual koran. Iapun membeli korannya sebagai rasa bersalah meninggalkan seorang bocah semalam.
Barangkali jangan pernah menunda untuk berbuat baik. Kebaikanlah sejatinya yang menjauhkanmu dari marabahaya.
Semoga bermanfaat.

Minggu pagi
Pekanbaru, 27 April 2013

Teringat Ibu di Rumah

Malam Pekanbaru,
Malam minggu ini cukup kelabu bagi langit. Dimana-mana terdengar teriakan petir yang saling bersahutan, diiringi dengan kilat yang tak berkesudahan. Tapi anehnya langit tak jua memuntahkan tangisannya malam ini. Tak satupun bintang yang bertengger di dinding langit.

Walaupun langit tengah galau, tapi aku bersama seorang teman tetap mengitari Jalan Raya Sudirman yang membelah kota kecilku pekanbaru ini. Yah walaupun cuma hanya sekedar mengukur speedometer roda dua, kami hanya untuk menghilangkan kepenatan di akhir pekan ini. Jarum jam masih menunjukan pukul 9 kala itu, masih begitu terang lampu-lampu malam yang menyinari jalanan, segala jenia kendaraan saling berpacu dijalanan. Anak-anak muda masih terlihat ada yang berkumpul sekedar nongkrong, bersama pacarnya dan banyak juga yang melakukan balap liar.

Tapi bukan itu yang membuat hati ini sedih. Melainkan seorang wanita yang kulihat. Yah wanita itu barangkali hampir sama umurnya dengan ibu dirumah. Dari atas roda dua yang masih memutar pelan di atas jalan kuperhatikan dengan seksama. Wajah senduhnya begitu terlihat lelah, dengan memegang bakul nasi yang sudah usang. Bukan nasi isinya tapi uang receh yang mungkin tidak cukup untuk mengisi perutnya malam ini. Dengan tubuh kecil itu ia berjalan pelan, bahkan tulang punggungnya sudah membungkuk. Barangkali kekurangan asupan gizi. Terus ku pandangi ibu tua itu, sampai ia menghilang dari pandanganku. Sungguh hampir menetes air mata ini melihatnya teringat ibu dirumah. Tak kuasa rasanya membiarkan ibu seperti itu.
Pernah juga suatu ketika pulang dari membantu kakak mengajar dibimbelnya. Malam sudah larut menunjukan pukul 10 malam. Kakak memacu sepeda motornya karena hujan yang begitu deras, masih dibalik helmku, seorang wanita berjalan dengan kedua tangannya sambil menggeret tubuhnya yang kaku. Tak lupa iya memegang dengan erat ember kecil . Sungguh ironis memang melihat ibu itu dengan kekurangannya, tapi tiada pernah lelah menyusuri jalanan.Sungguh saat itu teringat ibu dirumah.
Sudah biasa bagi dunia melihat laki-laki bekerja keras dan menjadi kekuatan ekonomi bagi keluarganya. Tapi dari wanita- wanita yang saya temui tersebut saya memetik sebuah pelajaran bahwa wanita jauh lebih kuat dari apa yang terlihat. Sekeras apapun dunia mereka menghadapinya dengan kerendahan hati. Larutnya malam tak menyurut hati mereka untuk merogoh receh-receh para dermawan. Mereka tak menikmati nikmatnya beristirahat, barangkali tak juga pernah mencicipi lezatnya makanan. Barangkali seperti itulah lelahnya ibuku. Mungkin selama aku hidup dan bernafas selama 20 tahun ini aku belum pernah mengucapkan "terima kasih". Melalui tulisan ini aku ingin menyampaikannya, walaupun tak bisa terucapkan oleh lisan. Doakan selalu anakmu ini ibu, agar kelak mampu membahagiakanmu lebih dari kebahagian yang engkau torehkan dalam hidupku. Sehat selalu dan panjang umur agar kelak masih ada kesempatan kita berfoto dibawah togaku.
Amiin Ya Rabb…

Sabtu, 19 April 2014

Kenapa datang lagi ?

Setelah sekian lama aku tenggelam dalam sedikit kebahagiaan kecil dunia fanaku ini, perlahan kesedihan mulai datang mengetuk hati. Sebuah rasa yang mungkin selalu ingin kuhindari kedatangannya.
Kesedihan ini sedikit lancang bagiku, tak pernah aku mengundangnya namun ia selalu hadir tiba-tiba. Malangnya aku selalu membukakan kesempatan untuk setiap kesedihan ini memasuki dan kemudian mencabik-cabik lembaran hatiku, yang dulunya tengah aku bangun hati ini sekuat dan setegar karang di laut lepas. Namun barangkali hatiku tak setegar penampilannya yang elok. Kesedihan kenapa kau datang lagi ? Tak cukup lelahkah kau selalu mengusik hati ini, atau tak cukup bosankah engkau selalu mendatangi insan yang sama. Atau memang hanya aku yang pantas engkau kunjungi ?
Bahkan dengan ribuan pertanyaan yang aku ajukan pun, tak satupun mampu engkau jawab. Lantas aku harus bagaimana menghadapimu. Tak ada lagi pundak sahabat-sahabat yang bersedia mengurangi sedih ini. Hanya sujud dalam kerendahan hati tempatku mengadu.
Kesedihan beranjaklah sedikit dari tempatmu berdiri, biarkanlah aku menghirup udara ini sejenak.
Setidaknya izinkan aku untuk mengatakan selamat tinggal kepadamu sedihku.

Pekanbaru, 20 April 2014

Jumat, 21 Maret 2014

Ibu, ibu dan ibu

Catatan kecil ini aku persembahkan untuk wanita yang kupanggil ibu

Ibu,
Wanita tua renta itu kupanggil ibu
Wanita dipenghujung masa pensiunnya
Wanita yang nafasnya begitu berarti bagi keluarga
Namun ia adalah wanita yang selalu kudoakan dalam setiap sujudku siang dan malam
Ibu,
Ibu yang selalu kubanggakan
Ibu yang memberiku jutaan inspirasi
Ibu yang memberiku lebih dari sekedar materi
memberiku nafas lebih dari sekedar oksigen
Ibu yang kucintai
Ibu,
Tetaplah menjadi ibu bagi anak-anakmu
Tetaplah kuat seperti saat engkau mampu menggendongku dibahumu
Tetaplah tersenyum sesedih apapun kesulitan mendera kita
Tetaplah menjadi ibuku
Sejauh apapun kita terpisah
Tetaplah menjadi ibuku
Sampai nanti hembusan nafasku terhenti

Untuk ibuk asnimar :)

Minggu, 16 Maret 2014

Catatan Kecil Untuk Ayah

Catatan kecil ini aku persembahkan untuk ayah tercinta yang begitu kurindukan hadirnya :(

Ayah,
Bukan hal yang mudah untuk gadis kecilmu ini melewati hidupnya tanpamu
Belasan tahun tanpamu,
Bukanlah hal cukup singkat untuk dilalui
Juga bukan hal cukup menyenangkan untuk dihadapi
Ayah,
Aku rindu saat dimana waktu masih memberikan kita kesempatan untuk mengukir kenangan
Aku rindu saat kita masih bisa tertawa bersama
Aku rindu semua senyuman dan amarahmu
Aku rindu semuanya ayah
Ayah,
Sungguh aku rindu saat gubuk kecil kita masih diwarnai canda tawa maupun duka
Sungguh aku rindu saat kita bersama membangun bisnis kehidupan
Ayah,\
Tak bisa kah sejenak kau kembali
Tak bisakah kau menemaniku memakai TOGA dan kita berfoto bersama
Tak bisakah kau lihat begitu rapuhnya ibuku berbaring tanpamu
Ayah,
Terlalu rapuh ibu untuk membesarkan kami
terlalu sulit bagi kakak menentukan pilihan tanpa suara mu
Dan begitu rindunya aku gadis kecilmu ini
Sungguh ayah aku rindu