Bicara
tentang uang memang paling asyik buat anak kost sepertiku, apalagi di tanggal
muda. Paling enggak senyum mistis I Gusti Ngurah Rai masih setia tergolek tak
berdaya didalam dompet tercinta. Tapi jangan coba-coba bicara uang pas banget
ditanggal tua, siap-siap deh buka dompet mendapati Kapitan Pattimura bawak
golok. Nah seperti itulah keadaan dompet sekarang ini. Miris tenan ya ?
Lantas
aku tidak begitu shock atau pingsan mendapati bahwa ternyata dompetku hanya
menyimpan dua lembar uang Rp.50.000,-.
Karena udah biasa mendapati kondisi dompet dalam keadaan yang mengenaskan
seperti ini. Seksama kuperhatikan kalender di meja belajarku, “masih tanggal
27, masih ada 3 hari lagi untuk bertahan hidup” pikirku karena dalam waktu 3
hari kiriman akan datang.
Belum
lagi mikir dompet yang lagi sakit parah, kepalaku benar-benar pusing 7 keliling
memikirkan skripsi yang belum jelas nasibnya, barangkali dosen pembimbing masih
pada galau sehingga aku yang menjadi korban PHP-nya.” Apakah bahagia sesulit
ini ya Allah” teriakku pada dirisendiri. Sebenarnya dua hari yang lalu anak-anak
kost ngajakin buat karaokean dan hang out
gitu di mal. Tapi dengan alasan ngerjain skripsi aku menolaknya, ya tau
sendiri dong keadaan dompet gimana. Lagi sakit berat, bisa-bisa aku malah karaokean dilampu merah ntar. 3 hari
yang lalu juga sama, teman-teman satu kelas pada ngajakin weekend out bound di
pinggir kota. Boro-boro masuk out bound, bisa-bisa disuruh get out entar.
Pada
akhirnya aku copot uang Rp.50.000 dari dalam penjara dompetku, kubiarkan ia
menghirup udara bebas sebelum aku benar-benar melepas kepergiannya, eh ngomong
apaan sih ? . Lanjut aku bersiap-siap layaknya gadis remaja berhijab lainnya. Sebenarnya mau kemana sih? Yah aku gak tau
juga yang penting melancong kemana aja melepaskan sedikit penatnya menuntut
ilmu. Kudorong perlahan si cantik finoku keluar dari garasi kost. Kupanaskan
mesinnya selama 5 menit, agar hari ini dia mempunyai semangat menemaniku mengukur
jalan kenangan dikota kecilku ini.
Bensin si fino juga sudah full banget ni, wah gak keluar uang lagi deh!
Dalam
perjalanan yang baru aku mulai beberapa menit yang lalu, hati kembali bingung
kemanakah aku akan melangkah? Ah entahlah kemana takdir akan membawa perjalanan
ini. Aku pasrahkan pada takdir. Aku kemudian berhenti di salah satu toko buku
terbesar dikotaku. Naluri sebagai seorang gadis remaja itu memang tak pernah
salah ya menyangkut barang-barang yang berbau diskon. Aku segera memakirkan si
fino di area parkir. Dengan sigap aku melangkahkan kaki kedalam toko,
sepertinya lagi ada diskon buku besar-besaran. Untungnya suasana tidak terlalu
ramai, sehingga aku bisa dengan nyaman dan bebas membaca buku gratis disana.
Nah loh ? kiraen mau beli buku?. Disaat diskon seperti ini biasanya banyak
banget buku yang gak disampul, nah bagiku ini sebuah kesempatan emas untuk
menggali ilmu pengetahuan dari hal-hal yang berbau gratis. Maklum uang tinggal
50.000 ni. Setelah cukup puas membaca buku, perutpun mengalunkan music keroncong
yang lumayan sendu sedari tadi. Jam juga sudah menunjukan pukul 2 pantas saja
para awak cacing sudah demo meminta kenaikan gaji, eh maksudnya diberi
tunjangan sembako gitu. Aku memutuskan
untuk keluar dan mencari makanan. Dengan membayar parkir pecah sudah perawan
sikertas biruku, digantikan dengan si hijau, si ungu dan si merah hati yang
terlihat lecek dan kucel.
Akupun
mulai beraksi mencari warung makanan yang enak tapi super duper murahnya. Emang
ada? Mari kita berburu. Tapi sebelum sampai ditempat tujuan yang dimaksud.
Perjalananku dihentikan oleh si sombong lampu merah. Oh ya sudahlah, sebagai
warga Negara yang taat lantas aku menghentikan laju kendaraanku. Sambil
menunggu mataku tertuju kepada beberapa anak jalanan yang menjajakan Koran harian.
Sungguh pilu sekali hati ini melihatnya, terbakar di bawah terik matahari hanya
untuk mendapatkan sesuap nasi. Teringat akan ayah ibu dikampung halaman yang
berjualan Koran dan majalah, karena itulah aku bisa melanjutkan pendidikan sampai
ke bangku tingkat universitas ini. Hanya saja bedanya ayah mempunyai toko kecil
untuk berwirausaha. Sehingga aku tak perlu seperti mereka, bersusah payah menjajakan
Koran seperti itu. Tiba-tiba seorang bocah dekil mendekatiku “kak korannya kak,
Cuma 4000” ucapnya sambil menawarkan Koran kepadaku. Aku kemudian merogoh-rogoh
tasku, mencari pecahan si biru tadi, tapi aku tak menemukannya. “pasti terselip
didalam buku ni” pikirku saat itu. Sayangnya, lampu hijau sudah menyala.
Beberapa kendaraan dibelakangku sibuk membunyikan klakson, karena sudah
terdesak segera saja kugas motorku, tanpa memberikan sepeser uang kepada adik
itu. Ya allah, sungguh hatiku sangat sedih kala itu, membayangkan betapa
sedihnya wajah bocah itu.
Setelah
sekita 500 meter dari lampu merah tadi, tiba-tiba ban depan motorku pecah. Aku
benar-benar terkejut dan tak mampu menyeimbangkan laju motorku. Sebelum terjadi
hal-hal yang tak di inginkan, aku segera mematikan mesinnya, turun dan menuntun
motorku mencari bengkel terdekat. Tapi apa mau dikata, setelah setengah jam
berjalan menuntun si cantik fino menusuri jalan raya yang sungguh ramai ini.
Bahkan aku tak sempat untuk update status “aduh ban bocorr, help me please !!”.
Akhirnya aku menemukan bengkel yang seperti oase bagiku dipadang pasir.
Sementara si finoku di make up dengan sang mekanik, aku menikmati makan siangku
di warteg sebelah. Ya disaat sedang lapar begini apapun enak bagiku, asalkan
masih dalam kapasitas halal. Membayar parkir tadi, ban bocor dan makan siang
sudah habis uangku 20.000, berarti sisa 30.000. Kemudian aku berfikir tentang
anak kecil tadi, rasa bersalah kian hinggap mewarnai hati. Ah kesalahanku
mungkin sehingga mendapatkan kesialan seperti ini. Setelah motorku telah siap
diperbaiki, aku memutuskan untuk kembali kelampu merah tadi. Kucari sosok anak
keil itu, ternyata ia dan teman-temannya masih sibuk menjajakan korannya. Aku
berhenti dan memanggilnya, kuserahkan selembar uang 10.000 kepadanya “ambil aja
kembaliaanya ya” kataku sambil meraih korannya “terima kasih kak” jawabnya
sambil tersenyum polos ala bocah dekil. Hatiku sedikit lega telah memperbaiki
kesalahan hari ini. Kupacu gas motor matic ini, Cukup sudah hari ini, sepertinya
aku sudah cukup lelah berjalan-jalan tapi juga cukup bahagia bisa berbagi hari
ini. Walaupun Cuma mengantongi si biru.
Jarum
speedometer sudah menunjukan kadar bensin yang empty, aku segera menghentikan
motor di Pom Bensin terdekat. “Yah berkurang lagi deh si hijau” kicauku sedikit
menggerutu “mau pulang apa gak? Atau masih mau menuntun aku karena kasus kehabisan
bensin? Aku sih gak masalah” Seakan-akan si fino berkata sinis memarahiku.
Dengan
uang 50.000 bisa apa? Hal paling simple yang bisa kita lakukan adalah berbagi.
Toh itu gak akan merugikan kita kok. Karena ketika kita berbuat baik kepada
orang lain, hal yang sama akan kita dapati kelak. Simplekan ? bahagia itu cukup
berbagi ya palinga gak sibiru gak kemana.
dibuka yaa Link-nya :)
http://www.youtube.com/watch?v=XdI1CHTM4Mw