Malam Pekanbaru,
Malam minggu ini cukup kelabu bagi langit. Dimana-mana terdengar teriakan petir yang saling bersahutan, diiringi dengan kilat yang tak berkesudahan. Tapi anehnya langit tak jua memuntahkan tangisannya malam ini. Tak satupun bintang yang bertengger di dinding langit.
Walaupun langit tengah galau, tapi aku bersama seorang teman tetap mengitari Jalan Raya Sudirman yang membelah kota kecilku pekanbaru ini. Yah walaupun cuma hanya sekedar mengukur speedometer roda dua, kami hanya untuk menghilangkan kepenatan di akhir pekan ini. Jarum jam masih menunjukan pukul 9 kala itu, masih begitu terang lampu-lampu malam yang menyinari jalanan, segala jenia kendaraan saling berpacu dijalanan. Anak-anak muda masih terlihat ada yang berkumpul sekedar nongkrong, bersama pacarnya dan banyak juga yang melakukan balap liar.
Tapi bukan itu yang membuat hati ini sedih. Melainkan seorang wanita yang kulihat. Yah wanita itu barangkali hampir sama umurnya dengan ibu dirumah. Dari atas roda dua yang masih memutar pelan di atas jalan kuperhatikan dengan seksama. Wajah senduhnya begitu terlihat lelah, dengan memegang bakul nasi yang sudah usang. Bukan nasi isinya tapi uang receh yang mungkin tidak cukup untuk mengisi perutnya malam ini. Dengan tubuh kecil itu ia berjalan pelan, bahkan tulang punggungnya sudah membungkuk. Barangkali kekurangan asupan gizi. Terus ku pandangi ibu tua itu, sampai ia menghilang dari pandanganku. Sungguh hampir menetes air mata ini melihatnya teringat ibu dirumah. Tak kuasa rasanya membiarkan ibu seperti itu.
Pernah juga suatu ketika pulang dari membantu kakak mengajar dibimbelnya. Malam sudah larut menunjukan pukul 10 malam. Kakak memacu sepeda motornya karena hujan yang begitu deras, masih dibalik helmku, seorang wanita berjalan dengan kedua tangannya sambil menggeret tubuhnya yang kaku. Tak lupa iya memegang dengan erat ember kecil . Sungguh ironis memang melihat ibu itu dengan kekurangannya, tapi tiada pernah lelah menyusuri jalanan.Sungguh saat itu teringat ibu dirumah.
Sudah biasa bagi dunia melihat laki-laki bekerja keras dan menjadi kekuatan ekonomi bagi keluarganya. Tapi dari wanita- wanita yang saya temui tersebut saya memetik sebuah pelajaran bahwa wanita jauh lebih kuat dari apa yang terlihat. Sekeras apapun dunia mereka menghadapinya dengan kerendahan hati. Larutnya malam tak menyurut hati mereka untuk merogoh receh-receh para dermawan. Mereka tak menikmati nikmatnya beristirahat, barangkali tak juga pernah mencicipi lezatnya makanan. Barangkali seperti itulah lelahnya ibuku. Mungkin selama aku hidup dan bernafas selama 20 tahun ini aku belum pernah mengucapkan "terima kasih". Melalui tulisan ini aku ingin menyampaikannya, walaupun tak bisa terucapkan oleh lisan. Doakan selalu anakmu ini ibu, agar kelak mampu membahagiakanmu lebih dari kebahagian yang engkau torehkan dalam hidupku. Sehat selalu dan panjang umur agar kelak masih ada kesempatan kita berfoto dibawah togaku.
Amiin Ya Rabb…
Tidak ada komentar:
Posting Komentar