Bukan hal yang luar biasa mungkin melihat bocah-bocah kecil berwajah kusam dan memakai pakaian lusuh menjajakan koran di tepian pemberhentian lampu lalu lintas.
Terkadang mereka menjajakan koran yang sudah kadaluarsa tanggalnya bahkan sudah lecek. Mungkin sekarang lebih banyak orang-orang yang menggunakan jasa internet, dan malas untuk membaca koran.
Seringkali aku menemukan bocah-bocah tersebut bersama korannya. Satu hal yang membuat hati ini bergetar, bahwa aku mungkin sama seperti mereka. Dibesarkan melalui peluh keringat ayah yang seorang agen koran dan majalah. Hanya saja bedanya mungkin aku tak berkesempatan untuk merasakan sulit seperti bocah-bocah kecil itu. Menikmati terik matahari yang membakar jiwa namun tidak sebanding dengan laba yang didapat dengan menjual koran.
Barangkali Aku sedikit lebih beruntung.
Suatu pemandangan yang tiada kusia-siakan ketika melintasi lampu merah, melihat mereka menjajakan korannya seperti melihat diriku dalam kondisi yang berbeda. "Ya Allah mungkin aku yang tak mampu bersyukur bahwa nikmat yang engkau beri ini sudah lebih dari cukup" itulah kata yang selalu terlintas dibenakku melihat bocah-bocah itu.
Teringat oleh ku kisah yang diceritakan kakak laki-lakiku kala ia mengendarai roda duanya pulang dari mengajar. Lampu lalu lintas menunjukan sinyal merahnya. Iapun segera menghentikan laju kendaraan roda duanya. Setelah beberapa lama ia menunggu datanglah bocah kecil yang menyodorkan koran harian kepadanya. Sunggug saat itu hatinya tergerak untuk membeli, kemudian ia merogoh tasnya, namun ia hanya bisa menemukan uang senilai Rp.50.000. Ia terus mencari uang dengan nilai yang lebih kecil. Namun ternyata lampu hijau sudah menyala, para pengendara mulai memacu gas kendaraannya. Dalam kondisi yang sangat ramai ia terpaksa memacu laju kendaraanya tanpa sempat memberi sepeser uangpun kepada bocah itu.
Dalam posisi yang hampir mendekati area rumah. Sebuah kecelakaan terjadi. Ya, ia menabrak sebuah mobil. "Alhamdulilah ia tidak kenapa-napa begitu juga dengan honda yang ia kendarai, tidak lecet sedikitpun. Hanya saja mobil yang ia tabrak mengalami kerusakan yang cukup menguras kantong. Barangkali ini sebuah pelajaran buatnya. Kemudian esoknya ketika ia bertemu dengan bocah yang menjual koran. Iapun membeli korannya sebagai rasa bersalah meninggalkan seorang bocah semalam.
Barangkali jangan pernah menunda untuk berbuat baik. Kebaikanlah sejatinya yang menjauhkanmu dari marabahaya.
Semoga bermanfaat.
Minggu pagi
Pekanbaru, 27 April 2013