Sabtu, 26 April 2014

Bocah Itu Seperti Aku

Bukan hal yang luar biasa mungkin melihat bocah-bocah kecil berwajah kusam dan memakai pakaian lusuh menjajakan koran di tepian pemberhentian lampu lalu lintas.
Terkadang mereka menjajakan koran yang sudah kadaluarsa tanggalnya bahkan sudah lecek. Mungkin sekarang lebih banyak orang-orang yang menggunakan jasa internet, dan malas untuk membaca koran.
Seringkali aku menemukan bocah-bocah tersebut bersama korannya. Satu hal yang membuat hati ini bergetar, bahwa aku mungkin sama seperti mereka. Dibesarkan melalui peluh keringat ayah yang seorang agen koran dan majalah. Hanya saja bedanya mungkin aku tak berkesempatan untuk merasakan sulit seperti bocah-bocah kecil itu. Menikmati terik matahari yang membakar jiwa namun tidak sebanding dengan laba yang didapat dengan menjual koran.
Barangkali Aku sedikit lebih beruntung.
Suatu pemandangan yang tiada kusia-siakan ketika melintasi lampu merah, melihat mereka menjajakan korannya seperti melihat diriku dalam kondisi yang berbeda. "Ya Allah mungkin aku yang tak mampu bersyukur bahwa nikmat yang engkau beri ini sudah lebih dari cukup" itulah kata yang selalu terlintas dibenakku melihat bocah-bocah itu.
Teringat oleh ku kisah yang diceritakan kakak laki-lakiku kala ia mengendarai roda duanya pulang dari mengajar. Lampu lalu lintas menunjukan sinyal merahnya. Iapun segera menghentikan laju kendaraan roda duanya. Setelah beberapa lama ia menunggu datanglah bocah kecil yang menyodorkan koran harian kepadanya. Sunggug saat itu hatinya tergerak untuk membeli, kemudian ia merogoh tasnya, namun ia hanya bisa menemukan uang senilai Rp.50.000. Ia terus mencari uang dengan nilai yang lebih kecil. Namun ternyata lampu hijau sudah menyala, para pengendara mulai memacu gas kendaraannya. Dalam kondisi yang sangat ramai ia terpaksa memacu laju kendaraanya tanpa sempat memberi sepeser uangpun kepada bocah itu.
Dalam posisi yang hampir mendekati area rumah. Sebuah kecelakaan terjadi. Ya, ia menabrak sebuah mobil. "Alhamdulilah ia tidak kenapa-napa begitu juga dengan honda yang ia kendarai, tidak lecet sedikitpun. Hanya saja mobil yang ia tabrak mengalami kerusakan yang cukup menguras kantong. Barangkali ini sebuah pelajaran buatnya. Kemudian esoknya ketika ia bertemu dengan bocah yang menjual koran. Iapun membeli korannya sebagai rasa bersalah meninggalkan seorang bocah semalam.
Barangkali jangan pernah menunda untuk berbuat baik. Kebaikanlah sejatinya yang menjauhkanmu dari marabahaya.
Semoga bermanfaat.

Minggu pagi
Pekanbaru, 27 April 2013

Teringat Ibu di Rumah

Malam Pekanbaru,
Malam minggu ini cukup kelabu bagi langit. Dimana-mana terdengar teriakan petir yang saling bersahutan, diiringi dengan kilat yang tak berkesudahan. Tapi anehnya langit tak jua memuntahkan tangisannya malam ini. Tak satupun bintang yang bertengger di dinding langit.

Walaupun langit tengah galau, tapi aku bersama seorang teman tetap mengitari Jalan Raya Sudirman yang membelah kota kecilku pekanbaru ini. Yah walaupun cuma hanya sekedar mengukur speedometer roda dua, kami hanya untuk menghilangkan kepenatan di akhir pekan ini. Jarum jam masih menunjukan pukul 9 kala itu, masih begitu terang lampu-lampu malam yang menyinari jalanan, segala jenia kendaraan saling berpacu dijalanan. Anak-anak muda masih terlihat ada yang berkumpul sekedar nongkrong, bersama pacarnya dan banyak juga yang melakukan balap liar.

Tapi bukan itu yang membuat hati ini sedih. Melainkan seorang wanita yang kulihat. Yah wanita itu barangkali hampir sama umurnya dengan ibu dirumah. Dari atas roda dua yang masih memutar pelan di atas jalan kuperhatikan dengan seksama. Wajah senduhnya begitu terlihat lelah, dengan memegang bakul nasi yang sudah usang. Bukan nasi isinya tapi uang receh yang mungkin tidak cukup untuk mengisi perutnya malam ini. Dengan tubuh kecil itu ia berjalan pelan, bahkan tulang punggungnya sudah membungkuk. Barangkali kekurangan asupan gizi. Terus ku pandangi ibu tua itu, sampai ia menghilang dari pandanganku. Sungguh hampir menetes air mata ini melihatnya teringat ibu dirumah. Tak kuasa rasanya membiarkan ibu seperti itu.
Pernah juga suatu ketika pulang dari membantu kakak mengajar dibimbelnya. Malam sudah larut menunjukan pukul 10 malam. Kakak memacu sepeda motornya karena hujan yang begitu deras, masih dibalik helmku, seorang wanita berjalan dengan kedua tangannya sambil menggeret tubuhnya yang kaku. Tak lupa iya memegang dengan erat ember kecil . Sungguh ironis memang melihat ibu itu dengan kekurangannya, tapi tiada pernah lelah menyusuri jalanan.Sungguh saat itu teringat ibu dirumah.
Sudah biasa bagi dunia melihat laki-laki bekerja keras dan menjadi kekuatan ekonomi bagi keluarganya. Tapi dari wanita- wanita yang saya temui tersebut saya memetik sebuah pelajaran bahwa wanita jauh lebih kuat dari apa yang terlihat. Sekeras apapun dunia mereka menghadapinya dengan kerendahan hati. Larutnya malam tak menyurut hati mereka untuk merogoh receh-receh para dermawan. Mereka tak menikmati nikmatnya beristirahat, barangkali tak juga pernah mencicipi lezatnya makanan. Barangkali seperti itulah lelahnya ibuku. Mungkin selama aku hidup dan bernafas selama 20 tahun ini aku belum pernah mengucapkan "terima kasih". Melalui tulisan ini aku ingin menyampaikannya, walaupun tak bisa terucapkan oleh lisan. Doakan selalu anakmu ini ibu, agar kelak mampu membahagiakanmu lebih dari kebahagian yang engkau torehkan dalam hidupku. Sehat selalu dan panjang umur agar kelak masih ada kesempatan kita berfoto dibawah togaku.
Amiin Ya Rabb…

Sabtu, 19 April 2014

Kenapa datang lagi ?

Setelah sekian lama aku tenggelam dalam sedikit kebahagiaan kecil dunia fanaku ini, perlahan kesedihan mulai datang mengetuk hati. Sebuah rasa yang mungkin selalu ingin kuhindari kedatangannya.
Kesedihan ini sedikit lancang bagiku, tak pernah aku mengundangnya namun ia selalu hadir tiba-tiba. Malangnya aku selalu membukakan kesempatan untuk setiap kesedihan ini memasuki dan kemudian mencabik-cabik lembaran hatiku, yang dulunya tengah aku bangun hati ini sekuat dan setegar karang di laut lepas. Namun barangkali hatiku tak setegar penampilannya yang elok. Kesedihan kenapa kau datang lagi ? Tak cukup lelahkah kau selalu mengusik hati ini, atau tak cukup bosankah engkau selalu mendatangi insan yang sama. Atau memang hanya aku yang pantas engkau kunjungi ?
Bahkan dengan ribuan pertanyaan yang aku ajukan pun, tak satupun mampu engkau jawab. Lantas aku harus bagaimana menghadapimu. Tak ada lagi pundak sahabat-sahabat yang bersedia mengurangi sedih ini. Hanya sujud dalam kerendahan hati tempatku mengadu.
Kesedihan beranjaklah sedikit dari tempatmu berdiri, biarkanlah aku menghirup udara ini sejenak.
Setidaknya izinkan aku untuk mengatakan selamat tinggal kepadamu sedihku.

Pekanbaru, 20 April 2014