Sabtu, 11 Oktober 2014

Atas Nama Kenangan

"Ia tak pernah benar-benar pergi, ia datang saat aku memanggilnya atas nama kenangan"

Kalimat manis nan menyedihkan ini aku curi dari sebuah cerpen klasik karya salah satu penulis terbaik bangsa, Helvy Tiana Rosa dengan judul 'Cut Vi'

Aku suka kalimat itu
Entahlah kenapa
Hanya saja ada getaran yang bangkit dari tidur panjangnya setelah mengingat aksara itu . . .
Aku tau dan mengenal dengan baik getaran itu
Getaran kesedihan~ kesedihan akan kenangan~ kenangan yang hilang

"Ia tak pernah benar-benar pergi"
Kau tau siapa yang pergi dan menghilang dari hidup ini?
Hanya satu nama
Ayah . . .
Ayah . . .
Ayah . . .
Ia pergi~ tak mungkin lagi kembali~ meski hanya untuk sekedar mengetuk mimpiku

Tahun ini tepat sudah sepuluh tahun
Sepuluh tahun?
Bukanlah waktu yang singkat
Bahkan mungkin bumi sudah lelah berotasi selama itu
Matahari telah bosan menyapa kita di pagi hari selama itu
bahkan mungkin kesedihanku telah berkarat dibasahi air mata untuk sekedar membangkitkan kenangan tentangnya . . .

Tapi,
aku sadar
Mungkin raganya telah menyatu dengan tanah . . .
Mungkin jiwanya tiada bisa kulihat
Aku sadar aku lupa satu hal
Ia datang
Ia selalu hadir disini
Saat aku memanggilnya atas nana kenangan
Ia ada . . .
Saat sel otakku mencoba menggali timbunan kenangan yang ada
Mungkin . . .
Saat aku memanggilnya melalui tulisan ini
Ia ada disini
Melihat aksaraku
Dan mengusap kepalaku
Sama seperti apa yang sering ia lakukan dulu
Ia datang . . .
Saat aku memanggilnya atas nama kenangan . . .

Tidak ada komentar:

Posting Komentar